Isyarat Menteri Israel, Langkah Besar Pencaplokan Tepi Barat Tidak Segera Terjadi

- 30 Juni 2020, 20:54 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu.*

 

FIXBANJARMASIN.COM - Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kecil kemungkinan tentang langkah besar negaranya untuk mencaplok pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki pada 1 Juli 2020. Ini merupakan titik awal yang direncanakan untuk pertemuan pada debat kabinet tentang masalah ini.

"Israel masih tidak memiliki lampu hijau dari Washington untuk memulai perluasan kedaulatannya ke bagian-bagian Tepi Barat, wilayah warga Palestina," ungkap Zeev Elkin, anggota partai Likud dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Para pemimpin Palestina, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kekuatan dari Eropa dan negara-negara Arab semuanya mengecam setiap pencaplokan tanah yang direbut pasukan Israel dalam perang 1967.

"Siapa pun yang melukis gambar segala sesuatu yang terjadi dalam satu hari pada 1 Juli, melakukannya dengan risiko sendiri," Elkin, menteri pendidikan tinggi, mengatakan kepada Radio Army ketika ditanya apa yang akan terjadi pada hari Rabu, ia mengatakan "Mulai besok, jam akan mulai berdetak".

Sementara itu hingga sekarang, masih belum ada pengumuman resmi tentang pertemuan kabinet pada hari Rabu yang diumumkan.

Para pejabat Amerika Serikat yang berada di Israel sebagai bagian dari upaya Gedung Putih untuk memenangkan konsensus dalam pemerintahannya.

Sehingga aneksasi sebagaimana yang dibayangkan dalam rencana perdamaian Israel-Palestina yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Januari. 

Proposal itu menyerukan kedaulatan Israel atas sekitar 30% dari Tepi Barat - tanah tempat Israel telah membangun pemukiman selama beberapa dekade - serta penciptaan negara Palestina di bawah kondisi yang belum baik.

Palestina mengatakan pencaplokan itu akan menjadikan negara bagian, di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, tidak dapat dipertahankan, dan sebagian besar kekuatan dunia memandang permukiman Israel di tanah yang diduduki sebagai ilegal.

Halaman:

Editor: Lalita hanief

Sumber: Reuters


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X